"Kami mohon! tolong antarkan kami ke Negeri Wa!" ujar seorang samurai tinggi dan anaknya sambil menundukkan kepalanya.
"Yap! Baiklah! Ayo antarkan Kin-emon dan Momonosuke ke Negeri Waaa!" ujar seseorang bertopi jerami sambil mengepalkan tangannya ke langit.
"Tunggu, Luffy! Kita tak punya kewajiban untuk melakukan ini!" ujar Usopp sambil menggebrak meja eksperimennya.
"Luffy! Kau tau tidak, Negeri Wa itu negeri para samurai yang tertutup terhadap orang asing!" ujar Nami sambil mengusap matanya yang basah karena ulah kaptennya.
"Tidak masalah 'kan?" ujar Luffy dengan wajah polosnya. "Zoro! kau mau ke Negeri Wa tidak?" bujuk Luffy pada seorang pria berambut hijau dengan 3 pedang tersampir di pinggangnya.
"Negeri Wa? bolehlah" ujar Zoro.
"Zorooo! jangan menyemangati Luffy, dong!" ujar Chopper panik.
"Baiklah, tuan-tuan sekalian, jika tuan-tuan ingin mengantar kami, anda boleh melakukannya" ujar Kin-emon.
=Dan Kin-emon dibuang ke lautan Dunia Baru oleh Kelompok Topi Jerami=
"Maaf tapi bisakah tuan sekalian antarkan kami ke Negeri Wa-bu?
=Dan Kin-emon dimakan oleh monster laut Dunia Baru=
"Ayo kawan-kawan! ayo kita ke Negeri Wa! Zoro, kau setuju 'kan?" bujuk Luffy.
"Ya" jawab Zoro. Sementara Usopp, Nami, Chopper menangis ria di tiang utama.
"Kenapa kita harus punya kapten bodoh seperti Luffy?" tanya Nami menangis bombai.
"Tenang saja, Nami-swaaan! Sanji si Lelaki akan siap melindungimu dari segala halangan dan rintangan!"
Senin, 04 Agustus 2014
Coret : barang Bekas Lebih Berharga daripada Barang Baru
Hey teman-teman! Aku bernama Rummaisa Khotimah, panggilanku Mai. Aku anak perempuan yang suka menulis, meski belum pandai sekali, hehehe. Oh iya. aku juga suka belajar bahasa. Sekarang, aku belajar Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, dan Bahasa Russia. Jika teman-teman mau membantu, silahkan bantu, hehe. Oh iya, kritik dan saran teman-teman untuk karanganku ditunggu ^_^
***
Seorang gadis berumur 14 tahun sedang menggambar dengan serius di bangku kelasnya. Beberapa teman mengerubunginya, karena jarang sekali ada anak perempuan dengan hobi menggambar Naruto. Sangat aneh dan jarang.
Namun, apapun yang terjadi, itulah dia. Yup! Dia Karin, masih duduk di kelas 2 SMP. Sudah menjadi peristiwa sangat biasa jika ada yang bertanya ‘wah kamu bisa menggambar? Naruto lagi. Hebat!’. Biasanya, responnya hanya ‘hehe’ atau bahkan dia Cuma diam saja.
Masih terus berlanjut, kegiatan gadis berkulit putih dan ditutupi jilbab itu. Tanpa sadar ada seorang anak laki memperhatikannya. Dengan agak malu-malu, didekatinya Karin.
“wah gambarmu bagus, Rin” pujinya sekedar. Dia juga tahu. Bahwa pujian itu sangat biasa di telinga gadis itu. Gadis itu mengangguk, masih tetap fokus dengan gambar Narutonya.
“ini siapa?” tanya anak laki itu seperti membangun percakapan.
“oh ini? Ini Sasuke” jawabnya dan kembali meneruskan kegiatannya. Anak laki itu menjauhi Karin dan bergabung dengan teman-temannya.
“nih” dia menyodorkan sesuatu. Dingin.
“wah, teh es gratis! Ari, makasih, ya!” ucap gadis itu polos. Ari, nama anak laki itu, hanya bisa tertunduk.
Waktu istirahat selesai namun guru tak kunjung datang. Ketua kelas bilang, guru sakit. Kontan, semua anak kelas 8.2 langsung bersorak bahagia. Ya, itu wajar. Jarang ‘kan ada guru sakit? Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan baik.
Beberapa anak laki-laki bermain gitar sambil duduk di meja. Mereka juga bernyanyi, meski suara jauh dari kata bagus. Karin tertarik dan menghampiri Ari.
“Ri, aku baru belajar main gitar, nih. Ajarin, dong” pinta gadis itu. Ari mengangguk.
“boleh, yuk, ikutan” ajak Ari.
Dan mereka bermain gitar bersama dengan riang.
5 tahun kemudian…
RRR…
Ponsel Karin bergetar nakal. Karin mengecek ponselnya malas-malasan.
“ah siapa, sih?” gerutunya. Setelah dibaca, wah! Ajakan berbuka bersama dengan teman kelas 8.2? boleh tuh.
Karin mengendarai motornya menuju tempat yang dijanjikan. Ada beberapa orang yang dulu teman sekelasnya, sekarang sudah menjadi mahasiswa. Jika lelaki, saat di kelas 8 dulu sangat cupu, alias culun punya. Sekarang, Cakep punya. Jika perempuan, saat kelas 8 dulu masih belum bisa memakai jilbab dengan benar, sekarang sudah bisa berjilbab dengan gaya sedemikian rupa. Intinya, teman-teman Karin mengalami banyak perubahan.
“hey, Karin! Ingat aku nggak?” colek seseorang. Berambut pendek, tinggi, berkulit gelap. Siapa? Bola mata Karin berputar mengais informasi di otaknya namun, tetap saja. Wajah Karin menjawab pertanyaan lelaki tersebut, ‘tidak ingat alias lupa’.
“ini aku, Ari! Masa sudah lupa?” dia mengingatkan. Karin kaget dengan perubahan yang benar-benar tak disangka. Sewaktu SMP dulu, Ari nggak ganteng-ganteng amat. Biasa saja.
“Rin, minta nomor Hpmu dong. Nanti, kalau ada kabar dari kelas 8.2 kan bisa dikabarin” pinta Ari.
“oh oke. Nih, kapan-kapan SMS-an yuk. daripada HP ini nggak pernah kupakai” jawab Karin asal. Yap, dia memang anak blak-blakan. Ari cengengesan menerima nomor HP Karin.
“oke. Nggak perlu kapan-kapan, nanti selesai bukber ini juga bisa kok. Hehehe” candanya. Mereka tertawa.
Dua hari kemudian…
RRR…
Karin mengambil ponselnya malas. dia mendapati ada SMS dari Ari. Wah, dia beneran kirim SMS, pikir Karin.
“ketemuan di pantai kota, yuk. bosen nih”
Karin agak merasa aneh dengan isi SMS Ari tersebut. Kok ketemuan di pantai? Jangan-jangan… Ah, paling juga buat refreshing, tukas Karin dalam hatinya.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan ke pantai kota, Karin mendapati Ari duduk di tepi pantai sambil makan jagung bakar.
“sori, lama nunggu, ya?” tanya Karin. Ari tertawa.
“nggak kok” jawabnya. Karin menghela nafas lega. Syukur nggak nunggu lama. Kan malu telatnya lama banget.
Mereka menikmati senja di pantai sambil ngobrol ngalor ngidul. Selalu saja ada bahan omongan dengan Ari.
“Ri, ada kertas nggak?” tanya Karin. Ari mengerling bingung. Dia mengangkat alisnya sebelah.
“buat apa, Rin?” tanya Ari. Karin menatap Ari jahil. “ada deh!” sambungnya. Ari memberikan kertas. Karin mengambil pensil dari tasnya. Ternyata, dia ingin menggambar suasana pantai ini. dia memang suka sekali menggambar.
“Rin” panggil Ari. Karin tak memalingkan wajahnya dari kertas gambarnya. Dia masih konsenterasi dengan gambar pemandangan pantainya.
“kamu mau jadi pacar aku?” ucap Ari. Karin kaget mendengar ucapan Ari. Agak beberapa saat Karin diam. Menggigit bibir bawahnya. Setelah diam-diaman beberapa saat, Karin mengangguk setuju.
“iya, aku mau, Ri.”
Jawaban yang membuat Ari tersenyum sumringah. Perasaannya terbalaskan!
Karin pulang dengan motor kesayangannya. Dia senyum-senyum sendiri. Seperti, yah, itu. Orang gila, masyarakat menyebutnya begitu. Sampai di rumah, dia mandi makan dan menuju kamar atau dunia pribadinya. Tak terlalu mempedulikan adiknya. Dia memang begitu, sih. jadi wajarlah. Jika senang, dunia dilupakannya.
RRR…
Ponselnya berdering. Buru-buru dicek, ternyata. Ari! Karin senang bukan kepalang. Buru-buru dia menjawab telepon Ari.
“hay Karin. Gimana nih, sehat kan?” katanya diseberang sana untuk basa-basi.
“hehe iya. Kamu iya juga kan? Udah makan? Udah gini, udah gitu. . .” terlalu banyak hal yang diomongkan oleh gadis 19 tahun itu. Dia dibuai oleh manisnya cinta. Dunia milik kita berdua, kata-kata itu benar-benar pas bagi Karin dan Ari.
Hubungan mereka berjalan mulus tanpa kerikil tanggul ataupun tanjakan. Hubungan mereka mulus karena kesamaan hobi, memainkan alat musik, khususnya gitar. Bahkan mereka berjanji mengumpulkan uang bersama untuk membeli gitar idaman. Benar-benar indah ‘kan? Teman-teman banyak kaget dengan hubungan ini. namun mereka tetap menjalankannya dengan perasaan saling suka.
Ini sudah minggu ke-3 hubungan Karin dan Ari berlangsung. Karin menggambar. Kemampuan menggambarnya tak perlu diragukan lagi. Patut diacungi jempol. Disaat seriusnya menggambar, ponsel Karin berdering.
“Halo?” ditempelkannya benda persegi panjang itu ke telinganya. Seperti biasa, Arilah yang menghubunginya. Karin selalu menjawab telepon Ari dengan senyum, meski Ari tak melihat langsung.
“Karin, maaf, ya” ujarnya di seberang. Karin heran. Ada apa? selama ini, hubungan mereka selalu mulus tanpa halangan. Sekarang, kenapa Ari minta maaf?
“kenapa, ada apa, Ri?” tanya Karin cemas. Agak lama Ari terdiam. Setelah berdehem sekian kali, Ari mulai membuka mulutnya dan menjelaskan alasannya meminta maaf pada Karin.
“gambarmu tempo hari terpaksa kurobek, Rin. Soalnya mantan pacarku lihat gambar itu, dia nggak suka dan dia nangis di depanku. Terus, yah, biar dia tenang, aku terpaksa robek gambar pantaimu itu. Maafin aku ya, Rin. Plis maafin aku”
Bagai petir di siang bolong. Gambar yang kubuat sepenuh hati untuk dia dirobek. Kata ‘robek’ bergaung di kepala Karin. Gadis itu mengelus dadanya dan berbisik ‘sabaar sabaar’ kepada dirinya yang nyaris dikuasai emosi yang meluap-luap.
“Rin? Karin?” sapa Ari di seberang sana. Karin kembali sadar.
“ooh, nggak apa-apa, kok, Ri. Cuma gambar, kok. Kan bisa dibikin lagi, Ri” Karin berusaha menghibur Ari yang dirudung rasa bersalah, meski itu lebih ditujukannya pada dirinya sendiri.
“iya, maafin aku, ya?” mohon Ari. Karin memberinya maaf. Karena penasaran, Karin menginterogasi Ari masalah mantannya itu.
Namanya Rika. Dia pacaran dengan Ari sewaktu SMA sselama 3 tahun. Dan sekarang, dia juga satu kampus dengan Ari. Sampai sekarang, Ari dan Rika masih kontak-kontakan.
Karin tak terlalu mempermasalahkan itu. Yang berkecamuk di kepalanya sekarang adalah ‘gambarku dirobek demi mantan’. Ingin rasanya Karin menanyai Ari hal ini,‘dia kan Cuma mantan?’ Tapi Karin tak jadi melakukannya karena memikirkan Ari. Yah, bisa dibikin lagi kok.
Sebagai gantinya, Karin membuat lagu yang berisi kekesalannya pada Rika dan memainkan gitarnya. Lumayanlah, buat menumpahkan emosi. Daripada galau di social media? Lebih baik kerkarya, itulah prinsip Karin.
Hubungan Ari dan Karin kembali mulus. Mereka sering bertemu di studio band dan membawakan lagu-lagu band terkenal.
“Rin” panggil Ari. Karin memandang lelaki itu.
“ada apa?” jawaban standar dari Karin. Ari hanya tertawa kecil.
“gini, loh. Kamu tau nggak kalau aku ngejar-ngejar kamu dari kelas 8?” Ari mulai angkat bicara.
“ah masa, sih?” Karin tak percaya. Wah, 5 tahun menungguku? Pikir Karin.
“iya! Kamu ingat nggak waktu aku beliin kamu es teh waktu istirahat? Niatnya biar dibilang perhatian, taunya kamu Cuma menganggap itu es teh gratis dariku” Ari mulai membocorkan semuanya. Karin diam. Wah, apa aku sepolos itu? Karin mengakui hal itu. Bahkan dia tak pernah berpikir bahwa ada Ari yang rela menunggunya selama 5 tahun. Ini seperti di novel, ‘kan?
“ehehe” Karin hanya cengengesan. Ari ikutan ketawa.
“aku ada lagu untuk kamu” Ari kembali mengambil gitarnya dan menyanyikan lagu untuk Karin. Lagunya pas sekali untuk Karin 5 tahun yang lalu. Karin hanya bisa tersenyum menahan malu dan salah tingkah.
Bagi Karin, ini adalah cerita antara dia, Ari dan musik.
Namun, beberapa hari kemudian, ada SMS mengejutkan dari Ari.
“Rin. Aku mau kita temenan saja”
Karin kaget. Padahal baru bangun kenapa sudah begini? Karin membalas SMS Ari. Perasaannya galau, cemas, sedih, apapun itu!
Detik kemudian, datanglah balasan dari Ari.
“Aku nggak mau pacaran, pacaran itu zina”
Karin tersenyum membaca SMS balasan Ari. Dia berpikir, Ari memutuskan hubungan ini karena ada orang ketiga, ternyata tidak. Jika ini alasan putusnya Karin dengan senang hati menerimanya. Karin buru-buru membalas SMS itu singkat ‘aku terima, Ri’.
Semenjak hubungan mereka berakhir, entah kenapa, Ari semakin dekat dengan Karin. Karin samasekali tak punya masalah dengan itu. Bahkan, mereka sudah hampir membeli gitar yang mereka idamkan. Mereka sering pergi ke studio band dan bahkan, pemilik studio hafal bahwa mereka pelanggan mereka.
Beberapa minggu berlalu dengan damai…
Rasanya hidup ini benar-benar indah. Kuliah tanpa masalah, membuat Karin tetap ceria seperti biasa. Dengan adiknya dia sering tertawa bersama, sampai-sampai ibu mereka hanya geleng-geleng melihat dua orang anak perempuannya begitu. Karin memang menceritakan semua masalahnya pada adiknya, begitu pula sebaliknya.
RRR…
Karin mengambil ponselnya dan kaget, syok membaca SMS dari Ari.
Karin berjalan cepat menuju kamar adiknya, yang masih asik dengan laptopnya.
“dek, buka” perintahnya dengan nada kesal. Adiknya membuka dengan wajah bersungut-sungut.
“apaan, sih? bikin kaget saja” protes adiknya.
“tau nggak?” tanya Karin. Adiknya menatapnya dengan tatapan tak tahu. “Ari balikan sama mantannya”
Perkataan Karin membuat adiknya terkejut.
“sama Rika? Serius, tuh?” adiknya memastikan. Karin mengangguk lemah. Mungkin, dia menahan emosinya sedemikian rupa.
“kan dia bilang dia nggak pacaran lagi?” tanya adiknya lagi. Karin kembali mengangguk lemah.
“sudah, aku mau telepon dia dulu” kata Karin. Adiknya membiarkan kakaknya meluapkan emosinya.
Karin menghubungi Ari. Syukur diangkat.
“dasar ingkar janji. Mana katanya yang nggak mau pacaran lagi yang katanya pacaran itu zina? Sayang Allah?” semprot Karin. Ari diam di seberang.
“dengar nggak? Kok diam?” Karin sesak, dia menahan air mata emosinya.
“bukan gitu, Rin. Rika nangis di depanku buat minta balikan. Dia bilang dia mau minta kesempatan terakhir. Dia bilang dia nggak bakal bikin kesalahan lagi” jelas Ari.
“oh gitu? Nangis di depan kamu biar bisa balikan lagi? Dramaqueen banget ‘pacarmu’. Pengkhianat” Karin tak memperhatikan lagi apa yang dia ucapkan. Air matanya entah kenapa ikut menetes setiap dia berkata. Ari hanya diam di seberang berusaha menenangkan Karin, sayang tak berguna. Karin memutus teleponnya.
“kak, makan, yuk” ajak adiknya. Karin mengikuti adiknya. Dia memang belum makan, sih.
Sesampai di ruang makan, Karin berkata pada adiknya,
“dek, kamu tau nggak, kita hidup di dunia dimana barang bekas lebih berharga daripada barang baru”
Karin dan adiknya tertawa.
Sepertinya, adiknya paham apa maksud Karin.
***
Ini semua kisah nyata dari keluargaku. Namanya kusamarkan ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)